Abdul Haris Pare

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Bahagia menggunakan  standar kebahagiaan diri kita.

Bahagia menggunakan standar kebahagiaan diri kita.

Membandingkan kehidupan diri kita dengan orang lain tentu akan membuat kita tak pernah puas menjalani hidup. Selalu saja kita menganggap bahwa diri kita tak lebih bahagia dengan mereka, padahal belum tentu mereka lebih bahagia dari kita. Kadang kala kita menganggap bahwa kehidupan orang lain jauh lebih beruntung, padahal tidak sesungguhnya. Cara pandang kita saja yang teralu berlebihan, pada akhirnya hanya akan membuat kita tak pernah merasa puas.

Bukankah sebaiknya kita mensyukuri apa yang Allah sudah berikan untuk kita selama ini?.

Setiap insan punya cara tersendiri untuk bahagia, termasuk anda yang sedang membaca tulisan ini. We need to create our own way to be happy tanpa harus menggunakan standar kebahagiaan orang lain. Hal ini akan membuat kita lelah jika terus menerus mengukur kebahagiaan hidup kita dengan orang lain. Apa kamu sedang tak bahagia karena tetangga, teman karib, atau bahkan saudaramu sudah memiliki rumah mewah sementara kamu belum?, atau kamu sedang cemburu melihat teman-temanmu sudah berkali-kali ganti mobil sementara kamu untuk uang muka saja tidak punya?, Atau mungkin kamu merasa rendah diri karena dibesarkan dengan kondisi single parent, memiliki istri yang tak cantik rupanya(kata orang), atau bahkan belum memiliki momongan?. Those Questions do not require an answer guys. Don’t be sad and miserable. Sekali lagi, we need to create our own way to be happy.

Ya, namanya manusia, ada saja yang membuat diri kita tak puas, tak sesuai dengan harapan. It’s normal, But for me I am happy what and how I am.

Bersyukur karena masih punya ibu.

Teringat emak di kampung halaman. Rindu jadinya apalagi menjelang lebaran seperti ini. Ingin kupeluk, kucium, kujabah tangannya memohon maaf atas segala khilafku tapi apa daya jarak yang terpaut jauh dengan status perantau menjadi penghalang. I miss and love her so much.

‘Nenek Hare’ begitu anak anakku sekarang memanggilnya. Satu-satunya orang tua kandungku yang masih ada setelah ditinggal mati bapak saat saya masih di bangku sekolah dasar kelas satu. Dengan segala keterbatasan, Emak membesarkan diriku dan keempat saudaraku dengan bersusah payah. Menggarap sawah (maggalung), beternak ayam dan sapi, menjadi koki di perusahaan, bahkan menjadi buruh di penggilingan padi keliling (madderos) hingga ke beberapa daerah. Semua dilakukan tanpa kenal lelah untuk mencukupi segala kebutuhan anak-anaknya. Saya bersyukur dan bahagia karena masih punya ibu. Entah bagaimana hidup dan nasib kami jika ibu juga tiada. Wallahu A’lam. Dan hingga hari ini kalau bukan karena ridhanya, I can’t be who I am.

Saya tak pernah menyesal meski dibesarkan hanya dengan seorang ibu, bahkan saya selalu berpikir cara untuk membalas kebaikan dan kebahagiaan yang pernah diberikan ibu untuk saya. Saya pun tidak akan membandingkan ibu saya dengan orang tua lain di luar sana yang katanya lebih baik dari ibuku. Bisa jadi ibu atau ayah yang mereka sebut itu tak lebih baik dari ibuku. Misalnya mereka adalah seorang yang tempramen, tidak bertanggung jawab, atau bahkan tak peduli dengan anak-anak mereka, Mungkin. Beruntungnya diriku, Allah menjauhkan perangai tersebut dalam diri ibuku. My Mom is the best one.

Terima kasih Allah untuk Istri dan Dua Malaikat Kecilmu.

Pada Hari Jum’at tanggal 2 Oktober 2009 silam, akhirnya Tuhan mendengar harapku. Segala keinginan sederhana tentang aku dan wanitaku sudah bisa menjadi nyata. Aku dan dia sah untuk tinggal satu atap bersama. Makan di meja yang sama, bahkan tidur satu ranjang berdua. Bagiku menikah denganya merupakan sebuah anugerah terindah membuatku tak habis-habis mengucap syukur kepada Tuhan untuk sebuah pertemuan di EDSA 03 A yang dahulu ia pernah takdirkan.

Sembilan bulan kemudian setelah menjalani komitmen dalam ikatan pernikahan, tepatnya Pada Tanggal 9 Juli 2010 di sebuah kamar rumah sakit yang serba putih, akhirnya anak pertama kami lahir ke dunia dan mengubah selamanya dunia kami berdua. Kami menyambutnya dengan berjuta senyuman, darah daging kami sendiri. Walau saat itu kami lelah dengan proses persalinan, Rona bahagia tetap terpancar dari wajah kami. Kami sangat menyayangi putri kami dan sepakat menamainya Zidni Ainun Nadhifah.

Tak sampai dua tahun kemudian, Lagi lagi Allah mengirimkan anugerahnya dalam keluarga kecil kami. Allah memberkahi dengan nikmat yang amatlah besar dengan kehadiran anak laki-laki diantara kami. Fawaid Ibnu Zahid namanya lahir pada tanggal 27 April 2012 Di RSUD Kudungga Sangatta Kutai Timur. Betapa bahagianya saat mengetahui bahwa yang Allah kirimkan adalah Pangeran kecil. Sungguh bersyukur kami. Serasa makin sempurna keluarga kecil ini dengan kehadiran anak kedua kami. Thank you Allah.

Perjuangan kami membangun mahligai rumah tangga ini bukan mudah, butuh proses , perjuangan, kerjasama, kesabaran, dan tentunya kesadaran diri untuk selalu merujuk pada Ilahi. Saya tidak sedang ingin mengatakan bahwa rumah tangga yang saya bangun sudah sempurna. Tidak, tidak sama sekali. Saya hanya ingin menguatkan diri saya bahwa untuk sampai di tahapan ini jalannya tidaklah mulus. Maka haruskah segalanya runtuh hanya karena melirik dan terobsesi ingin seperti pasangan yang lain. No way. Plis jangan memaksakan sesuatu yang diluar kemampuan kita. Kita ya kita. Mereka ya mereka. Jangan sampai kita iri dengan kehidupan orang lain sementara mereka malah iri dengan kehidupan kita. Tak selamanya rumput tetangga lebih hijau. So, stay on your own happy way.

Terima kasih Allah telah mengirimkan teman sejati untukku

Sahabat itu teman seperjuangan.

Persahabatan itu memperkaya ruh kejiwaan.

Selain orang tua dan istri anakku, dirimulah yang membuat hidupku berwarna kawan. Tahun 2003, Tuhan berkehendak dengan mempertemukan kita bertiga di kampus biru. Awal pertemuannya saya sudah lupa. Tapi tak salah jika kita mengatasnamakan organisasi sebagai dasar pertemuan kita. Organisasi intra kampus, HMJ Bahasa Inggris namanya saat itu. EDSA 03.

Semakin lama kita bergelut di dunia kampus semakin dekat persahabatan kita. Kita mulai berjalan bersama ke mana pun itu. Ke kantin, ngopi, warnet, ke Taeng, ke “London”, ke BPH, tak pernah ada yang ketinggalan. Kita bertiga selalu menampakkan batang hidung di setiap kegiatan kampus dengan kostum almamater biru, meski kadang perkuliahan terlewatkan, tugas dosen tak terselesaikan hingga pada akhirnya nilai C atau D bahkan E yang menghiasi rapor perkuliahan kita. Ironinya, kita tak pernah menyesal dengan nilai itu, kita hanya terbahak-bahak menikmati hasil jerih payah kita yang sesungguhnya. Itulah kita, tertawa dalam kesedihan.

Momen mengesankan lainnya adalah saat kita saat berhasil menyandang gelar sarjana pendidikan bersama-sama setelah melalui proses yang panjang, mulai dari menggarap judul bersama-sama hingga maju ujian meja pula. Kita tak saling meninggalkan satu sama lain, saling menopang untuk maju bersama, saling menyemangatkan untuk tak rapuh, dan saling mendoakan untuk kesuksesan bersama. Hasilnya pun tak mengecawakan, meski tak satupun diatara kita yang berhasil menjadi mahasiswa terbaik tapi setidaknya gelar cumlaude tercetak di ijazah kita masing-masing. We are Proud of Us.

Masih banyak hal yang lebih menarik diceritakan dalam kisah persahabatan kita salah satunya adalah persoalan asmara kita masing-masing. Tapi tenang kawan, saya tidak akan menceritakan di sini. Tak sopan jika saya melakukannya. Itu berarti saya melanggar kode etik 3 G tidak saling menjaga rahasia masing-masing. Cukup menjadi kenangan kita bertiga selamanya tanpa harus menceritakan ke siapapun.

Ini hanya secuil kisah tentang diri kita, saya selalu bangga bersama kalian. tak ada empatnya, hanya ada tiga. Dari kalianlah saya mengerti arti take and give, sebuah perjuangan yang pantang menyerah melawan kerasnya hidup. Thank u kawan masih menganggapku bagian dari hidup kalian. A true friendship never ends.

***

Bahagia itu mudah, yakni sukuri apa yang telah mejadi milik, dan jangan pernah membandingkannya dengan milik orang lain. karena sifat mebanding-bandingkan nikmat hanya akan membuatmu merasa kurang dan kurang. Hingga akhirnya kau akan mendustakan segala nikmatNya, sebab tak ada lagi syukur di hatimu, dan dari situlah muncul penyebab kau tak pernah bahagia dalam hidupmu.

Neo, 12 june 2018

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali